Meremehkan Piala AFF Adalah Kemunafikan Terbesar!

Meremehkan Piala AFF Adalah Kemunafikan Terbesar!
Font size:

Ada sebuah narasi yang belakangan sering beredar dengan sangat santer di kalangan para pencinta sepak bola nasional, menembus ruang-ruang diskusi dari kedai kopi hingga linimasa media sosial: "Piala AFF itu turnamen tarkam. Kita sudah level Asia, sudah waktunya meninggalkan piala ciki ini!"

Sekilas, ucapan itu terdengar seperti deklarasi kemerdekaan yang heroik. Ada arogansi yang bisa dimaklumi. Sepak bola Indonesia, di bawah rezim taktis yang pragmatis namun modern, memang sedang menikmati oksigen di ketinggian yang belum pernah kita hirup sebelumnya. Kita bicara tentang kualifikasi Piala Dunia ronde ketiga, tentang menahan raksasa-raksasa Asia, tentang skuad yang diisi nama-nama beken yang merumput di Eropa.

Dalam lanskap utopia ini, menengok kembali ke Asia Tenggara terasa seperti seorang sarjana yang dipaksa kembali mengikuti ujian kelulusan sekolah dasar. Namun, singkirkan sejenak kacamata statistik dan elitisme baru ini. Ayo kita jujur pada diri sendiri. Bagi sebuah bangsa yang sejarah sepak bolanya dibangun di atas fondasi patah hati dan ekspektasi dan selalu berujung air mata, mengabaikan Piala AFF 2026 adalah sebuah kemunafikan!

Kita nggak bisa memproklamirkan diri sebagai "Raja Asia" jika di halaman rumah sendiri, belum pernah sekalipun duduk di singgasana. Menjuarai Piala AFF, atau sekarang bernama ASEAN Championship pada 2026, bukan sekadar tentang piala; ini tentang eksorsisme—upacara pengusiran setan masa lalu yang telah menghantui sepak bola kita selama hampir tiga dekade.

Bagi Generasi Z, mungkin Piala AFF hanyalah turnamen dwitahunan yang kebetulan lewat di sela-sela kalender FIFA. Tapi bagi Generasi X dan Milenial, turnamen yang lahir pada 1996 dengan nama Piala Tiger ini adalah monumen penderitaan. Sejarah kita di turnamen ini adalah sebuah komedi gelap yang ditulis dengan sangat elok oleh takdir. Enam kali masuk final. Enam kali kita pulang dengan tatapan kosong, mengalungkan medali perak yang terasa lebih seperti borgol daripada penghargaan.

Kita adalah saksi hidup dari tendangan penalti yang melenceng, blunder di menit krusial, hingga kehabisan bensin di leg kedua. Kita adalah bangsa yang dipaksa merayakan status "hampir juara" selama 30 tahun.

Mari putar kembali memori itu. Ingatkah final 2000 dan 2002? Saat itu, generasi Kurniawan Dwi Yulianto dan kawan-kawan harus berhadapan dengan tembok absolut bernama Thailand. Di Stadion Utama Gelora Bung Karno yang bergemuruh pada 2002, kita kalah melalui adu penalti. Malam itu, puluhan ribu orang pulang menembus kemacetan Jakarta dalam keheningan yang mematikan.

Lalu edisi 2004. Peter Withe membawa angin segar perubahan. Boaz Solossa muda meledak di panggung regional. Kita menari melewati lawan-lawan di fase grup dan semifinal, hanya untuk dihancurkan oleh Singapura di partai puncak.

Kita kembali patah hati pada 2010, mungkin yang paling traumatis dari semuanya, ketika euforia nasional diruntuhkan oleh sinar laser di Bukit Jalil dan kekalahan agregat dari Malaysia dengan segala intrik dan kontroversi yang menyelimuti. Diikuti tragedi 2016 di bawah asuhan mendiang Alfred Riedl, dan kegagalan generasi baru pada 2020.

Enam final. Nol trofi. Pedih!

Bagi mereka yang tumbuh bersama rentetan kegagalan ini, Piala AFF memiliki nilai sentimental yang nggak bisa dihapus oleh secarik kertas berisi ranking FIFA. Mengatakan bahwa turnamen ini tak lagi relevan adalah sebuah bentuk penyangkalan coping mechanism. Kita bukan meremehkan Piala AFF karena turnamen itu buruk; di alam bawah sadar, kita mungkin mulai meremehkannya karena takut disakiti untuk ketujuh kalinya.

Validasi Regional: Sebuah Syarat Mutlak

Dalam sepak bola, mentalitas pemenang nggak ujug-ujug turun dari langit; ia ditempa di atas podium. Sebelum Lionel Messi mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, ia terlebih dahulu harus menghancurkan kutukan finalnya di Copa America 2021. Validasi regional adalah batu loncatan yang esensial.

Spanyol menjuarai Euro 2008 sebelum mendominasi dunia pada 2010. Begitu pula dengan gelar juara dunia tahun ini yang diawali dari Euro 2024. Jika menilik ke ranah Asia, Jepang dan Korea Selatan tak pernah memandang remeh kejuaraan regional mereka (EAFF) meski telah langganan masuk Piala Dunia. Mereka mungkin merotasi skuad, tapi DNA yang ditanamkan tetaplah untuk mendominasi tetangga-tetangganya.

Timnas Indonesia saat ini memiliki segalanya untuk menjadi yang terbaik di Asia Tenggara. Kita punya kedalaman skuad, struktur analisis data yang jauh lebih modern, pemahaman taktis tingkat tinggi, dan ketahanan fisik yang tak lagi kolaps pada babak kedua. Tapi ada satu hal yang belum dimiliki skuad ini: memori kolektif tentang bagaimana rasanya memenangkan sebuah turnamen internasional tingkat senior.

Meraih gelar Piala AFF 2026 akan memberikan suntikan winning mentality yang krusial. Ketika pemain tahu bagaimana rasanya memenangkan partai final—mengelola tekanan saat tim unggul tipis, mematikan tempo permainan, dan akhirnya mengangkat piala—pengalaman empiris itu akan terbawa ke panggung yang lebih besar. Kita nggak bisa berharap skuad ini tiba-tiba memiliki mental baja untuk lolos dari kualifikasi Piala Dunia jika sekadar membungkam publik My Dinh atau Rajamangala saja masih gentar.

Mari bicarakan tentang gajah di dalam ruangan: drama. Sepak bola ASEAN bukan sekadar tentang 22 orang mengejar bola. Ini adalah geopolitik yang direpresentasikan di atas lapangan hijau. Ini adalah tentang kebanggaan nasional yang rapuh, tentang provokasi murahan, intrik media, hingga psywar pelatih di ruang konferensi pers yang kualitas dramanya mengalahkan sinetron jam utama.

Rivalitas kita dengan Malaysia, Vietnam, atau Thailand adalah bumbu yang membuat sepak bola regional ini sangat beracun sekaligus adiktif. Melawan Malaysia adalah urusan harga diri, sejarah, dan sentimen serumpun yang selalu memanas. Ingatan tragedi Bukit Jalil 2010 masih meninggalkan bekas luka. Melawan Vietnam, terutama era pasca-Park Hang-seo, adalah pertarungan fisik dan adu nyali. Kita membenci gaya bermain mereka yang provokatif, namun diam-diam pernah iri dengan determinasi mereka yang tanpa kompromi.

Kemudian ada Thailand, Sang Raja Terakhir! Tim yang selalu bermain dengan aura arogansi elegan, seolah memberi tahu seluruh ASEAN bahwa mereka hanya sedang bermain-main dengan anak kecil. Mengalahkan Thailand di final Piala AFF bukan sekadar kemenangan taktis; itu adalah misi kudeta. Sebuah deklarasi pergantian rezim.

Mengatakan bahwa kita nggak perlu lagi meladeni mereka karena "sudah level Asia" adalah tindakan pengecut yang dibalut dengan rasa superioritas palsu. Kita wajib meladeni mereka. Kita wajib datang ke turnamen, memenangkan pertarungan, dan menancapkan bendera Merah Putih tepat di tengah lapangan mereka. Kita harus menunjukkan supremasi tersebut secara konkret, bukan hanya di atas kertas metrik Expected Goals (xG) atau di kolom komentar Instagram AFC.

Mengambil Ijazah Kelulusan

Jadi, bagaimana seharusnya kita menyikapi Piala AFF 2026?

Kita nggak perlu memanggil seluruh pemain yang merumput di skuad utama liga-liga top Eropa jika memang terbentur kalender FIFA. Namun, siapa pun yang mengenakan jersei dengan lambang Garuda di dada, harus diinstruksikan dengan satu mandat tunggal: bawa pulang piala.

Inilah saat yang tepat bagi federasi dan tim kepelatihan yang dikomandoi John Herdman untuk membuktikan bahwa sistem pembinaan dan kurikulum taktis kita telah merata, bahwa "Tim B" atau gabungan pemain liga domestik dan pemain abroad kita sudah memiliki standar yang sama tingginya dengan skuad utama.

Jika kita memang menganggap diri kita sudah "lulus" dari sepak bola ASEAN, Piala AFF 2026 adalah sidang skripsi terakhir kita. Kalian nggak bisa mendaftar program pascasarjana di tingkat Asia atau Dunia jika ijazah S1 Anda di Asia Tenggara masih tertahan. Apa mungkin kita bisa punya prestasi setingkat menteri atau presiden jika ijazah sarjana saja nggak punya?

Kita membutuhkan trofi Piala AFF itu. Untuk membasuh luka Kurniawan cs. pada 2002. Untuk menghapus air mata Firman Utina dkk. pada 2010. Untuk menghargai peluh perjuangan mendiang Alfred Riedl pada 2016. Bagi masyarakat Indonesia, trofi ini adalah utang sejarah yang bunganya sudah menumpuk terlalu tinggi.

Setelah kita memenangkannya pada tahun ini, setelah trofi perak itu akhirnya merasakan udara Jakarta dan diarak di Bundaran HI, maka silakan kirim tim usia muda untuk Piala AFF edisi-edisi berikutnya. Silakan kita memalingkan wajah sepenuhnya ke Asia dan membuang piala ini dari daftar prioritas. Meski untuk melakukannya kita pun butuh persiapan matang, termasuk membenahi sepak bola, khususnya tim nasional, sejak di akar rumput.

Namun sebelum hari itu tiba, sebelum trofi itu berada di lemari kaca PSSI, jangan pernah sekalipun berkata bahwa Piala AFF nggak penting! Kita belum selesai dengan Asia Tenggara sampai rival-rival yang “angkuh” itu berlutut di hadapan kita.

Rodri, "Komputer Cerdas" Pengendali Ruang dan Waktu
Artikel sebelumnya Rodri, "Komputer Cerdas" Pengendali Ruang dan Waktu
Artikel selanjutnya
Artikel Terkait